Perpustakaan Sekolah, Sumber Budaya Baca Siswa
Dewasa ini, minat baca siswa semakin menurun. Banyak faktor yang mempengaruhi. Terutama dunia luar, seperti hiburan yang kian marak dan tak terelakkan, sehingga dari salah satu faktor tersebut, siswa lebih suka memilih hal-hal yang lebih menyenangkan dibanding melakukan kegiatan membaca. Akibatnya, proses belajar menurun dan pola pikir yang lebih teratur juga menjadi lambat. Tentunya hal tersebut dapat diminimalkan jika pengawasan orang tua dan kerja sama dengan pihak sekolah terbentuk.
Pengawasan dan kepedulian orang tua sangat diperlukan dalam mengembangkan budaya membaca. Tidak bisa dipungkiri jika orang tua sudah tidak peduli lagi. Misalnya, buku, majalah ataupun surat kabar menjadi barang yang langka dijumpai di lingkungan keluarga. Terlebih lagi jika budaya membaca tidak dibiasakan. Maka hal tersebut akan berimbas pada rendahnya kemampuan membaca.
Kebanyakan saat ini, orang tua justru lebih suka memanjakan anaknya dengan melengkapi fasilitas bermain daripada membelikan buku-buku bacaan. Bahkan ada juga orang tua yang beranggapan bahwa kegiatan membaca hanya membuang waktu saja. Karena dianggapnya waktu lebih berharga digunakan untuk hal yang lain, misalnya membantu orang tua di dapur atau mencari uang. Ada pula yang beranggapan rugi membelanjakan uang untuk membeli buku. Karena lebih baik digunakan untuk membeli jajanan yang lebih mengenyangkan perut. Anggapan-anggapan tersebut sangatlah keliru, apalagi demi kemajuan pendidikan anak.
Oleh karena itu, pengawasan dan kepedulian orang tua di rumah sangat diperlukan. Salah satunya dengan membuat jadwal bagi anak untuk belajar dan membaca. Membiasakan anak untuk ‘bersahabat’ dengan buku, majalah ataupun surat kabar. Walaupun dengan cara meminjam. Serta menanamkan kebiasaan membaca sejak dini. Sedangkan di sekolah, salah satu cara adalah dengan melakukan aktifitas belajar dan membaca dengan melibatkan dan memanfaatkan perpustakaan sekolah. Di dalam perpustakaan sekolah budaya membaca akan tercipta dan pada akhirnya berkembang.
Perpustakaan sekolah adalah bagian dari proses pendidikan. Di dalam pepustakaan sekolah tentunya memiliki beragam jenis koleksi buku. Mulai buku fiksi hingga buku dokumenter. Meskipun di beberapa sekolah kita (yang ada di wilayah kota kita) tentunya tidak selengkap itu. Namun, dari sekian banyak judul, pasti ada yang menarik minat baca siswa.
Selain itu, perpustakaan sekolah juga menyediakan jasa pembelajaran, dan sumber daya yang memungkinkan semua anggota komunitas sekolah menjadi pemikir kritis. Juga sebagai pengguna informasi yang efektif dalam berbagai format dan media.
Perpustakaan sekolah memiliki arti penting bagi strategi jangka panjang. Strategi tersebut antara lain dalam pengembangan literasi, pendidikan dan penyediaan informasi. Dalam dunia pendidikan budaya membaca sangat dibutuhkan. Hal ini untuk menambah pengetahuan dan informasi, baik khusus maupun umum. Jika para petugas perpustakaan (pustakawan) dan guru dapat bekerjasama, maka siswa akan dapat mencapai kemampuan membaca yang lebih tinggi. Tidak hanya itu, proses belajar, memecahkan masalah, ketrampilan teknologi informasi dan komunikasi serta literasi juga akan berkembang.
Menurut manifesto yang dikeluarkan oleh UNESCO, perpustakaan sekolah bertujuan, antara lain: Mendukung dan memperluas sasaran pendidikan sebagaimana digariskan dalam misi dan kurikulum sekolah. Mengembangkan dan mempertahankan kelanjutan anak dalam kebiasaan dan keceriaan membaca dan belajar serta menggunakan perpustakaan sepanjang hayat mereka.
Selain itu, perpustakaan juga memberikan kesempatan untuk memperoleh pengalaman dalam menciptakan dan menggunakan informasi untuk pengetahuan, pemahaman, daya pikir dan keceriaan. Mendukung semua siswa dalam pembelajaran, praktek ketrampilan mengevaluasi dan menggunakan informasi, serta kepekaan dalam berkomunikasi. Bekerja dengan siswa, guru, administrator dan orang tua untuk mencapai misi sekolah. Serta sebagai promosi membaca dan sumber daya serta jasa perpustakaan sekolah kepada seluruh komunitas sekolah dan masyarakat luas.
Namun yang terjadi saat ini, perpustakaan sekolah cenderung kurang dimanfaatkan. Bahkan beberapa diantaranya tidak berjalan (vakum). Kurangnya pemanfaatan tersebut, dapat dilihat melalui sedikitnya intensitas kunjungan siswa ke perpustakaan sekolah. Juga kurangnya peran guru untuk memberi tugas dengan melibatkan perpustakaan. Misalnya menyuruh siswa untuk mencari informasi mengenai teknologi terbaru, mencari bahan literatur untuk makalah, mencari pemecahan masalah dari problem yang diberikan oleh guru, dan lain sebagainya.
Selain itu, para guru sendiri juga kurang mengunjungi dan memanfaatkan perpustakaan sekolah. Padahal, jika guru aktif mengunjungi dan memanfaatkan perpustakaan sekolah, maka akan memberikan contoh yang baik bagi siswanya. Kemudian yang sering di jumpai adalah petugas perpustakaan adalah seorang guru yang juga jarang ada di perpustakaan. Sehingga secara otomatis perpustakaan menjadi tanpa pelayanan dan sering tutup. Maka, alangkah baiknya jika perpustakaan memiliki petugasnya sendiri (pustakawan). Dimana petugas ini hanya khusus menangani masalah perpustakaan saja. Sehingga akan lebih mengerti dan paham tentang seluk beluk perpustakaan sekolah yang ditempatinya.
Dan yang terakhir perpustakaan sekolah jarang buka di luar atau setelah jam pelajaran. Pada umumnya perpustakaan sekolah buka pada saat jam pelajaran berlangsung saja. Seandainya bisa ditambah satu atau dua jam lagi setelah jam pelajaran berakhir, maka siswa akan mempunyai kesempatan berkunjung ke perpustakaan. Dan tentunya siswa akan lebih leluasa menggunakan perpustakaan.
Hal tersebut di atas dapat diminimalkan jika terjadi kerja sama oleh seluruh anggota komunitas sekolah untuk mengembangkan dan memanfaatkan perpustakaan sekolah secara optimal. Petugas perpustakaan sekolah hendaknya berperan aktif untuk mempromosikan buku-buku kepada seluruh guru dan siswanya. Tentunya butuh kekreativitasan tersendiri bagi petugas perpustakaan agar siswa lebih berminat mengunjungi perpustakaan sekolah. Serta perlu kerjasama yang baik antara pihak sekolah dengan pemerintah untuk kelengkapan dan pengadaan buku-buku. Jika koleksi buku lebih lengkap, maka hal tersebut akan lebih memudahkan siswa untuk belajar.
Oleh karena itu, hendaklah perpustakaan sekolah diselenggarakan secara adil dan merata bagi semua anggota komunitas sekolah. Kemudian dapat terorganisasi dan dikelola dengan baik. Tata letak maupun interior yang sederhana namun indah juga akan menambah daya minat siswa untuk mengunjungi perpustakaan. Jika perpustakaan sekolah tidak berjalan (vakum), maka sudah dapat dipastikan budaya membaca dan proses belajar kurang dapat berkembang. Mari kita budayakan anak didik kita untuk gemar membaca melalui perpstakaan sekolah.