Membaca Sebagai Pondasi Pendidikan Kita
Membaca merupakan kegiatan yang menyenangkan. Karena dengan membaca, kita dapat mengusir rasa jenuh, mengisi waktu luang, serta mendapatkan segudang informasi. Namun di sisi lain, membaca merupakan momok yang menjemukan bagi sebagian orang. Mereka menganggap bahwa membaca hanyalah kegiatan yang membuang waktu, biaya dan tenaga. Bagi mereka anggapan tersebut cukuplah beralasan, karena dengan membaca, waktu dianggap terbuang sia-sia. Waktu lebih baik digunakan untuk mencari uang. Uang lebih baik digunakan untuk membeli makanan daripada digunakan untuk membeli buku, majalah atau surat kabar. Dan tenaga lebih baik digunakan untuk bekerja atau bermain daripada tenaga dan pikiran terkuras hanya untuk membaca buku. Nah, bagaimana dengan anda?
Anggapan-anggapan tersebut tentunya tidak hanya berlaku pada diri orang yang bersangkutan saja, melainkan dapat mempengaruhi/menularkan pada lingkungan terdekatnya yaitu keluarga. Jika seseorang menganggap bahwa membaca adalah hal yang merugikan, maka ia akan menularkan anggapan tersebut kepada anak/bagian keluarganya yang lain. Demikian sebaliknya, jika seseorang menganggap bahwa membaca sangat bermanfaat, maka ia akan menularkan anggapan tersebut pada keluarganya. Jika pengaruh-pengaruh negatif terjadi pada anak usia sekolah dasar maka akan berakibat buruk pada perkembangan proses belajarnya. Padahal proses belajar sangatlah penting bagi kemajuan pendidikan anak.
Membaca adalah salah satu kemampuan dasar yang harus dikuasai bagi anak usia sekolah dasar, selain berhitung dan menulis. Taraf penguasaan membaca akan mempengaruhi penguasaan berhitung dan yang paling utama adalah menulis. Membaca juga merupakan salah satu bagian dari aspek berbahasa, dan bahasa adalah sarana untuk mengekspresikan pikiran. Jadi, kemampuan membaca juga dapat mempengaruhi pola pikir dan berkomunikasi.
Pola pikir tersebut meliputi daya analisis terhadap pelajaran bagi anak didik. Cara memecahkan masalah pada soal-soal pertanyaan, kemampuan berkreativitas dalam berbagai hal, serta kemampuan berteknologi.
Berkomunikasi meliputi kemampuan berbahasa, kemampuan menyampaikan pendapat, menuangkan ide dan lain sebagainya.
Budaya membaca harus ditanamkan sejak dini. Tentunya hal ini tidak lepas dari peran orang tua. Orang tua yang mengerti akan pentingnya membaca, tentunya akan mengenalkan buku, majalah ataupun surat kabar kepada anak sejak kecil. Dan hal tersebut haruslah diawali oleh orang tua sendiri sebagai contoh yang akan diikuti oleh anak. Dimulai dengan membacakan buku cerita pada anak. Cerita tersebut bisa dibacakan secara berulang-ulang agar anak mulai mengenal kata. Kemudian mengenalkan huruf, merangkai huruf dan pada akhirnya membiasakan membaca.
Kebiasaan membaca sejak kecil akan menjadi bekal dalam pertumbuhan dan perkembangannya sampai ia dewasa, bahkan sampai tua. Karena informasi yang dibutuhkan, terutama untuk keperluan dan perkembangan pendidikannya akan terus berkembang dan berubah seiring berkembangnya zaman.
Oleh karena itu jangan manjakan anak dengan melengkapi fasilitas bermain, namun lengkapilah dengan fasilitas edukasi. Utamanya untuk membaca sebagai dasar pendidikan dan bekal hidupnya.